Senin, 07 Desember 2009

menghilangkan bau kotoran

Siswa-siswi MAN Purbalingga Atasi Bau Kotoran Ternak dengan Nutrisi Alami Desa Sinduraja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah dihuni oleh penduduk yang sebagian besar memelihara ayam sebagai sumber penghidupan mereka. Namun kotoran ayam seringkali menimbulkan konflik di antara para peternak dengan masyarakat di sekitarnya. Melihat keadaan itu, para pelajar di Madrasah Aliyah Negeri Purbalingga berkiprah melakukan upaya yang dapat mengurangi konflik tersebut. Kartika Jani dan kawan-kawan di MAN Purbalingga membuat beraneka nutrisi dari pepaya, gadung, insektisida alami, dan sebagainya. Setelah diproses, mereka menyimpan semua nutrisi itu ke dalam botol-botol kecil dan diberi berlabel. Nutrisi pepaya biasa mereka gunakan untuk menambah warna dan membuat rasa buah lebih manis. Nutrisi gadung bermanfaat sebagai insektisida alami. “Kami di MAN Purbalingga melakukan praktik Natural Farming atau Pertanian Alami karena terdorong melihat segala sesuatunya kini sudah mengglobal,” ujar Ica, panggilan akrab Kartika. “Semuanya serba modern, bahan-bahan kimia yang digunakan di pertanian, seperti insektisida dan pupuk kimia buatan pabrik dapat menyumbang kepada global warming atau pemanasan global sehingga mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, serta dapat merusak alam di masa datang. Oleh karena itu, kami menggunakan bahan-bahan organik yang dapat mengurangi global warming dan perubahan iklim”. Peternak Berguru kepada Siswa-siswi MAN “Suatu hari satu kelompok ternak dari desa Mrebet mendengar kabar kalau MAN Purbalingga telah berhasil mengembangkan ternaknya,” ujar siswi kelas 11 IPA-1 ini. “Para peternak ini memelihara kambing dengan cara konvensional. Mereka mengetahui informasi ini dari salah seorang guru kami dan melihat kambing peliharaannya gemuk-gemuk. Setelah mendengar penjelasan Ibu Fat itu, kelompok ternak itu pun tertarik menimba ilmu di MAN Purbalingga”. Menurut Ica, mantan Ketua KIR Cendekia MAN Purbalingga, meski sudah cukup lanjut usia, para anggota kelompok tidak malu menimba ilmu dari para pelajar. Mereka tidak merasa malu atau sungkan, malah nyaman saja menimba ilmu dari anak-anak yang telah lebih dulu berhasil mencoba cara alami ini. Tidak merasa seperti kerbau menyusu gudhel (anak kerbau). KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) Cendekia MAN Purbalingga, pernah mengikuti Indonesia Expo Science Project Olympiad tingkat nasional di Jakarta pada awal 2009. Sebelum mengikuti lomba, para siswa berkonsultasi dengan pembina KIR Cendekia, mendiskusikan tema yang akan diangkat dari pertanian alami. Mereka memilih tema: mengurangi bau kotoran ternak kambing melalui pakan dari bahan alami. Bagaimana caranya? Para siswa-siswi memberikan pakan kambing dengan lima macam pakan terfermentasi, yaitu fermentasi jahe, fermentasi lele, fermentasi jantung pisang, fermentasi bawang (putih), dan fermentasi nasi. “Itulah ide kami,” ungkap Ica yang ingin menimba ilmu natural farming lebih dalam. “Kami yakin, gagasan kami baik, karena Purbalingga merupakan wilayah yang memiliki banyak peternakan di mana seringkali terjadi konflik antara peternak dan masyarakat di sekitarnya karena masalah bau. Oleh karena itu, kami mengangkat ide ini untuk kemaslahatan masyarakat di Purbalingga”. Para siswa dan pembina percaya, selain dapat menghasilkan produk yang melimpah, cara bertani alami ini juga dapat mengurangi pemanasan global meskipun saat ini baru terlihat kecil sumbangsihnya, tetapi hal itu dapat berperan mengurangi global warming. Para siswa mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari lingkungan sekitar. Lalu bahan-bahan tersebut dicacah, ditumbuk atau diparut, dan disaring bahannya, tergantung jenisnya. Kemudian timbang gula merah, dan campur bahan-bahan tersebut dengan perbandingan 1:1. Biarkan campuran itu berfermentasi selama 7 hari sampai mengeluarkan cairan. “Bahan terfermentasi ini kemudian kami berikan pada kotoran ternak,” jelas Ica. “Pertama, kami mengumpulkan kotoran ternak, kami taruh dalam stoples. Setelah itu kotoran tersebut kami semprot dengan nutrisi yang telah kami buat. Pengamatan kami lakukan dan setelah itu angket kami ajukan untuk menentukan bau kotoran ternak itu. Akhirnya, kami susun laporan penelitian tersebut”.

Para peneliti muda ini memberikan beberapa perlakuan kepada kotoran ternak, dan melakukan pengamatan setiap hari. Mereka membandingkan bau kotoran ternak sebelum diberi perlakuan dan setelah 13 hari kemudian. Dari grafik pengamatan itu terlihat penurunan bau kotoran, seperti tertera pada tabel berikut ini: Tabel Penurunan Tingkat Bau Kotoran Ternak Sebelum melakukan penelitian, para siswa-siswi melakukan studi pendahuluan. Mereka mengumpulkan kotoran ayam di dalam kantung plastik. Kotoran ayam itu mereka peroleh dari peternakan-peternakan di sekitar sekolah. Lalu mereka menyemprotnya dengan lima macam nutrisi. “Kalau memang terbukti dapat menghilangkan bau, kami akan menerapkan cara ini dalam bakti sosial kami kepada masyarakat,” lanjut Ica. Para anggota KIR bidang natural farming membuat sendiri nutrisi yang digunakan untuk penyemprotan kotoran ayam. Kemudian mereka melakukan bakti sosial untuk menghilangkan bau kotoran ayam di desa Sindureja. Dan studi itu berhasil mengurangi bau. “Waktu itu kelompok dibagi dua, masing-masing 15 orang. Kelompok 1 menyemprot nutrisi di kandang ayam petelur, kelompok lainnya melakukan penyemprotan di kandang ayam pedaging”. Masa Depan Anak Petani dan Natural Farming Ica dan beberapa kawan peneliti mudanya di KIR Cendekia berharap setelah meneliti cara mengurangi bau kotoran ternak dengan lima nutrisi, agar ada penelitian lanjut sehingga nutrisi yang telah mereka temukan dapat bermanfaat bagi masyarakat. “Cara ini sangat bermanfaat bagi warga sekitar,” sambung Ica. “Setelah mengadakan bakti sosial, masyarakat senang. Bahkan peternak dari Sinduraja datang lagi ke sekolah kami untuk meminta formula yang kami buat”. Namun para siswa ini tidak bisa melayani keinginan masyarakat secara komersial. Meski para peternak ingin membeli formula dari MAN Purbalingga, mereka tidak mau menjualnya. “Sebagai peniliti muda, keinginan kami adalah masyarakat sendiri yang belajar agar mereka bisa membuat formula-formula itu dan menjadi mandiri,” kata Ica. Sementara itu, kiprah para pelajar ini juga mendapat dukungan penuh dari para guru dan kepala sekolah mereka. “Kami senang melihat perkembangan natural farming di sekolah, mengingat sebagian besar siswa berasal dari keluarga petani,” ujar Pak Kholid, guru kimia yang juga pembina KIR Cendekia MAN Purbalingga. “Kami berharap, setelah anak-anak lulus, mereka dapat mandiri berwirausaha dan mengembangkan apa yang telah diperoleh di sekolah ini sehingga dapat berdampak kepada lingkungannya dan dapat membantu masyarakat sekitar. Petani yang tadinya tergantung pada obat-obatan dan pupuk kimia pabrikan, diharapkan akan beralih ke organik, dan kemakmuran petani di Purbalingga khususnya dan di Indonesia pada umumnya bisa meningkat”. Siswa-siswi sekolah lanjutan atas ini secara tidak langsung telah memotivasi masyarakat di sekitar sekolah untuk beralih dari sistem pertanian berbahan kimia ke pertanian alami, dari sistem pertanian yang merusak lingkungan dan mengancam kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya ke pertanian yang aman bagi manusia dan lingkungan. Di samping itu, kemitraan antara lembaga pendidikan (madrasah/sekolah), masyarakat, pemerintah daerah dan masyarakat sipil lokal diharapkan akan terwujud (disarikan dari rekaman video dan wawancara dengan kepala sekolah, guru-guru, dan anggota KIR Cendekia MAN Purbalingga/ink).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar